Hari Ketiga Kurusetra: Negeri Omon-Omon dan Darurat NPD

 Dongeng Sibu Bayan #040


Pagi ini penulis sebenarnya ingin rehat sejenak dalam kesendirian, menikmati kopi lokal yang ditanam para pesanggem di kawasan hutan sekitar Alas Purwo. Rencana sederhana: diam, minum, dan tidak terlibat dalam urusan kosmik apa pun. Tapi tentu saja, rencana manusia sering kali kalah oleh jadwal para tokoh pewayangan.

Togog dan Bilung datang tergopoh-gopoh, seperti dua notulen yang kehilangan rapatnya sendiri, lalu meminta penulis membantu merekam ulang kejadian yang katanya, tidak boleh hilang dari ingatan sejarah. Tentu saja caranya satu: menulis.

Dan di titik itu, penulis paham. Ini bukan lagi soal rehat atau kopi. Ini soal ditarik kembali ke medan Kurusetra, tempat bahkan diam pun bisa dianggap sikap politik. Ya sudah. Apa daya. Kalau sudah ditarik ke dunia magis pewayangan, penulis hanya bisa mengikuti alur yang sejak awal sudah disusun sang dalang......meski kadang dalangnya lebih mirip algoritma yang suka mengulang kekacauan dengan versi berbeda.

Di hari ketiga Perang Kurusetra, tanah mulai kehilangan kemampuan membedakan mana darah dan mana lumpur janji. Debu perang naik seperti laporan statistik yang sengaja dibuat kabur: tinggi, tebal, dan sulit diverifikasi.

Di tengah medan itu, Arjuna berdiri bukan karena yakin, tapi karena sudah terlalu sering diminta untuk tetap terlihat yakin. Di seberang, Karna tidak lagi sekadar ksatria, ia sudah menjadi simbol dari keputusan yang terlalu lama ditunda kebenarannya.

Panah dilepaskan, mantra dibacakan, tapi di balik semua itu ada satu hal yang lebih sibuk dari perang itu sendiri: narasi.

Di atas medan Kurusetra, para petinggi Pandawa dan Kurawa tidak benar-benar lagi berdiri sebagai ksatria murni perang. Mereka lebih mirip pengelola kekuasaan yang sibuk menjaga citra masing-masing kubu.

Dari kubu Pandawa, para pemimpinnya berbicara tentang stabilitas, tentang program yang “on track”, tentang rakyat yang disebut selalu tangguh, meski tak pernah benar-benar diajak jujur melihat luka yang sedang ditutup plester narasi. Semua disampaikan dengan wajah tenang, seolah penderitaan bisa diubah jadi grafik naik jika dikemas cukup rapi.

Sementara dari kubu Kurawa, para petingginya juga tidak kalah rapi dalam menyusun versi kebenaran. Mereka menyebut diri sebagai penyeimbang, sebagai alternatif kekuasaan, sambil tetap memastikan bahwa kekuasaan itu sendiri tidak pernah benar-benar lepas dari logika perebutan dan penguasaan. Dua kubu ini, pada akhirnya, sama-sama ahli dalam satu hal: mengubah kenyataan menjadi bahan omon-omon yang terdengar meyakinkan di ruang publik.

Omon-omon itu kini bukan lagi sekadar ucapan. Ia sudah menjadi bahasa resmi medan perang. Kebenaran dipanggil “versi tidak stabil”, kritik disebut “gangguan narasi”, dan kenyataan hanya dianggap valid jika sudah disetujui dalam konferensi pers.

Lalu sebuah “rapat darurat” pun digelar di tengah perang, meski tidak ada yang benar-benar tahu apakah ini rapat militer, rapat politik, atau sekadar sesi produksi narasi.

Di satu sisi, Pandawa menyampaikan briefing:

“Situasi terkendali. Kita masih on track menuju kemenangan moral dan strategis.”
“Program perlindungan rakyat berjalan sesuai indikator.”
“Gangguan di lapangan hanya dinamika kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan.”

Di sisi lain, Kurawa menanggapi dengan versi yang hampir sama, hanya berbeda diksi dan logo:

“Situasi sebenarnya menunjukkan ketidakseimbangan yang disembunyikan.”
“Kami hadir sebagai koreksi atas narasi tunggal kekuasaan.”
“Yang terjadi di lapangan adalah kegagalan tata kelola yang sistemik.”

Di tengah itu, muncul satu layar besar tak kasatmata: hasil survei persepsi rakyat.

Angkanya naik-turun seperti ombak yang tidak pernah diberi tahu kenapa ia harus percaya diri.

“Approval stabil,” kata suara dari kubu Pandawa.
“Ketidakpuasan meningkat tapi masih dalam batas aman,” kata analis mereka, sambil tersenyum seperti grafik bisa menenangkan lapar.
“Tidak perlu panik, ini hanya noise,” tambahnya, seolah kenyataan bisa diredam dengan istilah teknis.

“Krisis kepercayaan sedang terjadi,” kata kubu Kurawa.
“Namun masih bisa dikapitalisasi sebagai momentum politik.”

Togog menatap semua itu seperti menonton wayang yang lupa bahwa ia sedang ditonton.

“Bilung,” katanya pelan, “ini perang atau dashboard?”

Bilung menjawab tanpa menoleh, “Ini perang yang sudah upgrade jadi presentasi.”

Togog tertawa pendek. “Lucunya, yang paling sibuk di Kurusetra bukan yang bertarung, tapi yang menghitung persepsi.”

Di bawah langit yang sama, rakyat tetap tidak masuk dalam rapat. Tapi namanya disebut berkali-kali, sebagai alasan, sebagai target, sebagai angka, sebagai legitimasi.

“Rakyat kuat,” kata mereka.
“Rakyat sabar,” kata mereka.
“Rakyat memahami,” kata mereka.

Padahal tak pernah ada yang benar-benar bertanya: apa yang rakyat pahami, dan siapa yang menjelaskan itu dengan jujur?

Dan perlahan, di sela denting senjata dan rapat narasi itu, satu hal menjadi jelas, meski tidak pernah diucapkan secara resmi:

Kejujuran telah lama hilang dari negeri ini dan tergantikan dengan sesuatu yang jauh lebih absurd. Sebuah sistem di mana kekuasaan harus tetap langgeng tanpa gangguan kritik, di mana kawan dan lawan sama-sama tersenyum dalam panggung yang berbeda, dan di mana rakyat cukup dibiarkan berjalan dengan mode autopilot.....sesekali disebut “tangguh”, agar tidak terlalu banyak bertanya.

Di titik paling absurd itu, muncul gejala yang menyebar tanpa nama resmi, tapi terasa di semua lapisan kekuasaan: Darurat NPD (Narsistic Power Disorder). Bukan sekadar penyakit individu, tapi kondisi kolektif ketika semua pihak dalam kekuasaan merasa dirinya paling benar, paling berjasa, paling diserang, dan paling berhak atas definisi kenyataan. Kritik tidak lagi dianggap masukan, melainkan ancaman terhadap citra. Cermin tidak lagi dipakai untuk melihat diri, tetapi untuk memastikan tidak ada yang melihat terlalu dalam.

Maka kekuasaan tidak lagi berjalan dengan logika perbaikan, melainkan logika pemujaan diri yang berulang. Setiap kebijakan adalah panggung untuk membuktikan kebenaran sendiri. Setiap kegagalan adalah kesalahan interpretasi publik. Setiap kritik adalah gangguan terhadap stabilitas yang sudah didefinisikan sendiri.

Togog menghela napas panjang.

“Bilung, kalau sudah begini, yang sakit bukan negeri ini saja.”

“Lalu apa lagi?” tanya Bilung.

“Cara mereka melihat diri sendiri.”

Di medan perang Kurusetra hari ketiga itu, perang tidak lagi menentukan siapa menang dan kalah. Tapi siapa yang paling bisa bersiasat menyamarkan bahwa sebenarnya tidak ada yang benar-benar ingin jujur sejak awal.

Cerita sebelumnya: Hari Kedua Kurusetra: Statistik Ekonomi Baik-Baik Saja (Versi Slide Resmi)

(Sibu Bayan)

No comments:

Post a Comment