Hari Keenam Kurusetra: Negeri Para Penghitung Tanpa Rasa

 Dongeng SiBu Bayan #43


Penulis memasuki kawasan Taman Nasional Baluran. Agustus belum selesai, tetapi hutan sudah merangas. Rumput menguning, daun-daun berguguran, dan udara terasa panas. Di sebuah pos penjaga hutan yang reyot dan sudah lama tidak terpakai, penulis melihat Togog duduk bersama Bagong. “Tumben dengan Bagong. Biasanya dengan Bilung,” Sapa penulis

Togog menghela napas, “Bilung masih di Kurusetra.”

“Lalu kalian?” tanya penulis. “Kami mengungsi”, ujar Togog. “Dari perang?” tanya penulis kembali

“Bukan, dari orang-orang yang mengurus perang,” kata Bagong sambil tertawa kecil. “Perangnya biasa saja, Mas. Yang bikin pusing hitung-hitungannya,” lanjutnya lagi

Belum sempat penulis bertanya, Semar, Gareng dan Petruk datang tergesa-gesa. Rupanya mereka juga sedang melarikan diri dari hiruk-pikuk Kurusetra.

Semar duduk di lantai pos yang berdebu, “Hari ini perang memasuki hari keenam.”

Togog mengangguk dan berkata pelan, “Durna sudah menemukan cara baru memenangkan perang.”

“Dengan senjata?” tanya Kyai Semar. “Bukan, dengan angka,” saut Bagong

-o0o-

Durna memang sedang menjadi orang penting di Hastina. Setelah bertahun-tahun mengajari para ksatria cara membidik sasaran, ia menemukan sasaran baru yang jauh lebih menguntungkan, “penggilingan padi”. Usahanya berkembang pesat. Gabah masuk, beras keluar, dan angka-angka laba tumbuh lebih cepat daripada padi di musim hujan. Menurut hitungannya, laba penggilingan itu mencapai dua triliun.

Duryudana sangat menyukai angka tersebut. Bukan karena ia memahami bagaimana angka itu diperoleh, tetapi karena dua triliun terdengar sangat besar ketika disebut dalam pidato. Apalagi Duryudana memang mempunyai kegemaran pada angka delapan.

Entah apa sebabnya. Delapan penjuru mata angin, delapan program utama, delapan indikator keberhasilan, delapan langkah pembangunan. Kalau suatu angka tidak memiliki delapan, biasanya dicari alasan agar tetap bisa dibawa ke angka delapan.

Maka laba dua triliun itu segera dimasukkan ke dalam pidato.

“Ini bukti perekonomian Hastina tumbuh,” kata Duryudana.

Para pejabat mengangguk.

Durna tersenyum.

Sengkuni bahkan sudah menyiapkan tepuk tangan.

Tetapi di luar istana, petani masih harus menanam padi. Dan gabah tidak pernah tumbuh dari angka dua triliun. Ia tumbuh dari sawah, air, matahari, pupuk, tenaga, dan tangan orang yang sejak pagi berdiri di lumpur.

-o0o-

Tetapi angka dua triliun itu belum cukup untuk membuat pidato Duryudana terdengar merakyat. Ia membutuhkan angka yang lebih dekat dengan dapur. Sengkuni memilikinya. Ia adalah pensiunan pengupas bawang. Pekerjaan itu pernah dilakoninya bertahun-tahun. Tangannya hafal gerakan mengupas. Matanya sudah terbiasa pedih. Hidungnya sudah tidak terlalu peduli dengan bau bawang. Menurut hitungan Sengkuni, pekerjaan mengupas bawang bisa menghasilkan tujuh ratus ribu rupiah per kilogram.

Angka itu kemudian menjadi kebanggaan baru Hastina. Sengkuni bahkan melatih Banowati, istri Duryudana, agar memahami kehidupan rakyat dari bawah.

Banowati duduk di dapur. Satu kilogram bawang. Matanya merah. Tangannya pedih. Punggungnya pegal.

Sengkuni mencatat waktu dan hasilnya. Satu kilogram. Tujuh ratus ribu.

Dua kilogram. Satu juta empat ratus ribu.

Angka-angka itu kemudian dibawa ke istana.

Duryudana terpesona, “Luar biasa!”

Ia segera menemukan hubungan antara laba penggilingan padi Durna dan upah mengupas bawang yang diajarkan Sengkuni. Satu menghasilkan triliunan. Satu menghasilkan ratusan ribu.

Keduanya, menurut Duryudana, adalah bukti bahwa ekonomi rakyat sedang baik. Ia tidak bertanya berapa kilogram bawang yang sanggup dikupas Banowati dalam sehari. Tidak bertanya berapa jam ia harus duduk. Tidak bertanya apakah tujuh ratus ribu itu benar-benar diterima utuh. Apalagi bertanya mengapa mata istrinya merah. Baginya, tujuh ratus ribu adalah angka. Dan angka itu terlihat bagus di podium.

-o0o-

Di tengah kesibukan itu muncul seorang Kurawa yang baru diangkat menjadi Menteri Urusan Tanam Menanam Hastina. Namanya Durmukha. Ia tidak terlalu tertarik pada bagaimana Durna memperoleh laba dua triliun. Ia juga tidak terlalu tertarik pada berapa kilogram bawang yang dikupas Banowati. Tugasnya lebih penting. Membuat narasi.

Ketika angka laba penggilingan padi Durna mulai menjadi pembicaraan rakyat, Durmukha segera tampil. “Ini patut dicurigai.”

“Kenapa?”

“Mafia.” Kata itu kemudian beredar ke mana-mana.

Mafia penggilingan. Mafia beras. Mafia gabah.

Bahkan hampir saja muncul mafia karung, sebelum stafnya mengingatkan bahwa karung tidak punya kepentingan politik. Seorang abdi bertanya, “Apakah sudah terbukti?” Durmukha tersenyum, “Urusan bukti nanti.”

“Lalu sekarang?”

“Sekarang kita buat masyarakat paham bahwa ini pekerjaan mafia.”

“Kalau belum terbukti?”

Durmukha mengangkat bahu.

“Yang penting narasinya dulu.”

Togog yang menceritakan kisah itu tertawa, “Begitulah Hastina.”

Bagong bertanya, “Menteri Urusan Tanam Menaman kok sibuk membuat narasi?”

Togog menjawab, “Karena kalau terlalu sibuk bertani, nanti lupa membuat konferensi pers.” Petruk terkekeh. Gareng menutup mulutnya. Semar hanya menggeleng.

-o0o-

Akhirnya Duryudana mendapat semua bahan yang dibutuhkannya. Durna membawa angka dua triliun. Sengkuni membawa angka tujuh ratus ribu. Durmukha membawa kata mafia. Duryudana membawa semuanya ke atas podium. Ia berpidato panjang.

Menurutnya, penggilingan padi yang menghasilkan laba besar adalah bukti ekonomi yang tumbuh. Kalau ada yang mempertanyakan, ada mafia yang harus diberantas.

Sementara itu, pengupas bawang mendapatkan tujuh ratus ribu rupiah per kilogram. Ini, katanya, adalah bukti lapangan pekerjaan dan kesejahteraan rakyat.

Satu tangan menunjuk ke arah Durna. Tangan lainnya menunjuk ke arah Sengkuni. Di belakang podium, Banowati berdiri diam. Tangannya masih berbau bawang. Duryudana tidak melihatnya. Ia sibuk melihat angka.

Bisma duduk di samping singgasana. Orang tua itu mendengarkan pidato Duryudana dengan tenang. Ia tidak menemukan kesalahan pada hitungan. Dua triliun ya dua triliun. Tujuh ratus ribu ya tujuh ratus ribu. Mafia ya mafia. Bisma mengangguk. Ia orang suci. Terlalu suci untuk mencurigai bahwa angka yang benar pun bisa dipakai untuk menghasilkan kesimpulan yang salah.

-o0o-

Dari Pandawa, terlihat Arjuna mendengar pidato itu. Ia tidak tertawa. Ia justru tersenyum. Bagi Arjuna, pidato Duryudana adalah hadiah. Ia tidak perlu mencari kesalahan Durna. Tidak perlu menyelidiki Sengkuni. Tidak perlu membantah Durmukha. Ia hanya perlu mengambil semua yang sudah mereka katakan. Laba dua triliun. Upah tujuh ratus ribu. Mafia penggilingan. Lalu menyusunnya menjadi cerita yang berbeda.

Arjuna tahu bahwa perang tidak hanya dimenangkan dengan panah. Perang juga dimenangkan dengan narasi. Duryudana sedang memberi bahan. Arjuna tinggal mengolahnya.

“Durna punya laba dua triliun,” katanya kepada para pengikutnya. “Tetapi petani mendapat berapa?” “Tidak tahu,” jawab pengikutnya.

Kemudian dia melanjutkan, “Sengkuni mengatakan pengupas bawang mendapat tujuh ratus ribu per kilogram. Ya. “Berapa kilogram yang mampu dikupas dalam sehari?” “Tidak tahu,” jawab pengikutnya serempak

“Durmukha mengatakan penggilingan itu mafia.” Lanjutnya. “Benar,” saut pengikutnya

“Sudah terbukti?” Tidak ada yang menjawab. Arjuna tersenyum puas, “Bagus.” Ia tidak membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan ruang kosong. Karena dalam perang narasi, bagian yang tidak dijelaskan sering lebih berguna daripada bagian yang dijelaskan.

-o0o-

Di tengah semua itu, Abimanyu bersiap memasuki medan perang. Ia masih muda, harapan negeri. Mahasiswa Institut Pertanian termuka negeri ini. Di papan strategi Durna, ia mungkin hanya satu nama. Di pidato Duryudana, ia hanya bagian dari jumlah pasukan. Di narasi Arjuna, ia bisa menjadi simbol keberanian Pandawa. Tetapi bagi seorang ibu, ia adalah anak. Bagi seorang ayah, ia adalah putra. Dan bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang ksatria yang sedang menjalankan tugas.

Ia tidak tahu bahwa orang-orang di belakangnya sedang sibuk menghitung. Jumlah pasukan. Jumlah korban. Jumlah laba. Jumlah upah. Jumlah suara. Jumlah dukungan. Jumlah keberhasilan. Ia hanya tahu satu hal. Ia harus maju. Dan ia maju.

-o0o-

Penulis memandang Togog. Sejak tadi ia bercerita tentang Durna, Sengkuni, Durmukha, Duryudana dan Arjuna yang semuanya sibuk dengan angka. Ada yang menghitung laba, kilogram, keberhasilan, dan ada pula yang menghitung keuntungan politik.

“Jadi semua orang sibuk menghitung?”

Togog mengangguk, “Durna menghitung laba. Sengkuni menghitung kilogram. Durmukha menghitung orang yang percaya narasinya. Duryudana menghitung keberhasilan. Arjuna menghitung keuntungan politik.”

“Bisma?” tanya Penulis. Togog tersenyum, “Bisma tidak menghitung.”

“Kenapa?”

“Karena dia percaya.”

Semar yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Bisma bukan bodoh. Ia hanya terlalu suci dan naif untuk membayangkan bahwa kebenaran bisa dipakai untuk tujuan yang tidak suci.”

Pos kembali sunyi. Di luar, angin menggeser daun-daun kering.

-o0o-

Penulis teringat Banowati. Perempuan itu masih mencium bau bawang di tangannya ketika suaminya berbicara tentang kesejahteraan.

Tujuh ratus ribu. Sebuah angka yang terlihat besar dari podium. Tetapi Banowati tahu, angka itu harus ditukar dengan kilogram. Dan kilogram harus ditukar dengan waktu. Waktu harus ditukar dengan tenaga. Tenaga harus ditukar dengan rasa pedih di mata dan pegal di punggung.

Sementara di tempat lain Durna menghitung laba penggilingan padi. Dua triliun. Angka yang terlihat sangat indah dari meja. Tetapi di balik angka itu ada gabah yang ditanam, petani yang bekerja, buruh yang mengoperasikan mesin, biaya yang harus dibayar, dan beras yang akhirnya dibeli orang.

Kemudian Durmukha datang membawa kata mafia. Arjuna membawa narasi. Duryudana membawa pidato. Bisma membawa kesucian. Dan rakyat membawa akibatnya.

-o0o-

Matahari mulai tenggelam. Penulis bersiap meninggalkan pos. Togog masih duduk. Bagong kembali mengupas singkong. Semar berdiri memandang Baluran yang merangas.

“Mas penulis,” kata Semar. “Ya, Kyai?”

“Durna tidak salah menghitung,” lanjut Kyai Semar

Penulis diam. Kyai Semar bergumam lagi, “Sengkuni juga tidak salah menyebut angka.”

Kyai Semar berhenti sejenak, dan kemudian melanjtkan “Durmukha mungkin benar atau salah tentang mafianya. Itu urusan pembuktian.”

Ia memandang jalan yang mulai gelap, “Arjuna juga tidak salah melihat bahwa semua itu bisa dijadikan narasi.”

“Lalu apa yang salah?” tanya Penulis

Semar tersenyum tipis, “Tidak ada.”

Penulis menunggu. Semar kemudian berkata, “yang hilang hanya satu.”

“Apa?”

“Rasa.”

-o0o-

Penulis meninggalkan Baluran ketika malam mulai turun. Hutan yang merangas perlahan menghilang di kaca spion. Kurusetra masih berperang. Durna masih menghitung laba penggilingan padi. Sengkuni masih mengingat bawang. Durmukha masih membuat narasi mafia pangan. Duryudana masih menyukai angka delapan. Arjuna masih menyusun cerita. Bisma masih percaya. Abimanyu masih maju. Dan rakyat masih hidup di antara angka-angka itu.

Tidak ada yang salah dengan menghitung. Negeri ini memang membutuhkan orang yang pandai menghitung. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah bisa dimasukkan ke dalam tabel. Petani tidak hidup dari laba penggilingan. Buruh tidak hidup dari angka upah per kilogram bawang. Rakyat tidak hidup dari pidato.

Mereka hidup dari apa yang benar-benar sampai ke tangan dan meja makan mereka. Malam semakin gelap. Penulis kembali teringat satu hal.

Bukan tidak bisa menghitung. Tetapi tidak ikut merasakan apa arti angka itu bagi orang yang hidup dengan angka tersebut.

Kurusetra tidak pernah benar-benar selesai. Karena perang tidak selalu dimulai ketika anak panah dilepaskan. Kadang perang dimulai jauh sebelumnya, ketika angka kehilangan rasa di negeri para penghitung.

-o0o-

Cerita sebelumnya: Hari Kelima Kurusetra: Lumbung Merah Putih


Hari Kelima Kurusetra: Lumbung Merah Putih

 Dongeng SiBu Bayan #042


Penulis telah meninggalkan Alas Purwo. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Mobil melaju perlahan membelah jalan yang lengang menuju utara. Sesekali cahaya lampu menyapu batang-batang pohon jati yang berdiri diam seperti barisan penjaga malam. Di sebelah kanan terdengar samar debur ombak Laut Jawa yang datang dan pergi, seolah sedang mengulang kisah-kisah tua yang tak pernah selesai diceritakan. Udara mulai terasa asin. Tak ada kendaraan lain. Hanya gelap, jalan, dan pikiran yang masih tertinggal di Alas Purwo.

Kini penulis berada di kawasan Bajulmati, beberapa kilometer sebelum memasuki Taman Nasional Baluran dari arah Banyuwangi. Nama itu selalu terdengar ganjil. Mengapa seekor buaya harus mati agar sebuah tempat memperoleh namanya? Atau mungkin negeri ini memang gemar memberi nama sebelum sempat memahami kisahnya.

Jalanan nyaris lengang ketika telepon genggam bergetar.

Semar.

"Mas… kalau belum terlalu jauh, putar baliklah."

"Ada apa, Kyai?"

"Hari ini perang memasuki hari kelima."

Hari Keempat Kurusetra: Gajah-Gajah Penjaga Rupiah dan Bursa

 Dongeng Sibu Bayan #041


Sebenarnya penulis sudah berniat meninggalkan Alas Purwo. Setelah semalam mendengarkan kisah hari ketiga Perang Baratayudha tentang Negeri Omon-Omon, rasanya kepala penulis sudah cukup penuh oleh cerita para pejabat Hastinapura yang lebih sibuk mengelola kata-kata daripada kenyataan. Hutan yang semestinya menjadi tempat mencari ketenangan perlahan berubah menjadi ruang kuliah terbuka tentang perang, kekuasaan, dan segala tingkah laku manusia yang kadang lebih sulit dipahami daripada suara burung di tengah malam.

Sore itu penulis mulai berkemas. Buku catatan sudah masuk ransel. Baju-baju sudah dilipat. Rencananya besok pagi penulis akan menuju Jember. Penulis tidak ingin terlalu lama tinggal di Alas Purwo. Angin laut selatan yang berembus di sela pohon nyamplung jauh lebih menenangkan daripada laporan korban perang yang datang setiap hari.

Namun, ketika penulis hendak melangkah keluar dari penginapan kecil tempat penulis menginap, seseorang memanggil dari ruang depan.

Ternyata Bagong dan Petruk sedang berdiri di depan televisi tua yang tergantung di sudut lobi. Dengan wajah serius yang jarang penulis lihat, keduanya meminta penulis mendekat.

"Mas... lihat ini dulu."

Di layar televisi tampak ribuan mahasiswa memenuhi jalan-jalan ibu kota Hastinapura. Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara. Sebagian berorasi dengan semangat, sebagian lain tampak sibuk merekam diri sendiri. Di bagian bawah layar muncul tulisan besar: REPOT NASI JILID II

Hari Ketiga Kurusetra: Negeri Omon-Omon dan Darurat NPD

 Dongeng Sibu Bayan #040


Pagi ini penulis sebenarnya ingin rehat sejenak dalam kesendirian, menikmati kopi lokal yang ditanam para pesanggem di kawasan hutan sekitar Alas Purwo. Rencana sederhana: diam, minum, dan tidak terlibat dalam urusan kosmik apa pun. Tapi tentu saja, rencana manusia sering kali kalah oleh jadwal para tokoh pewayangan.

Togog dan Bilung datang tergopoh-gopoh, seperti dua notulen yang kehilangan rapatnya sendiri, lalu meminta penulis membantu merekam ulang kejadian yang katanya, tidak boleh hilang dari ingatan sejarah. Tentu saja caranya satu: menulis.

Dan di titik itu, penulis paham. Ini bukan lagi soal rehat atau kopi. Ini soal ditarik kembali ke medan Kurusetra, tempat bahkan diam pun bisa dianggap sikap politik. Ya sudah. Apa daya. Kalau sudah ditarik ke dunia magis pewayangan, penulis hanya bisa mengikuti alur yang sejak awal sudah disusun sang dalang......meski kadang dalangnya lebih mirip algoritma yang suka mengulang kekacauan dengan versi berbeda.

Di hari ketiga Perang Kurusetra, tanah mulai kehilangan kemampuan membedakan mana darah dan mana lumpur janji. Debu perang naik seperti laporan statistik yang sengaja dibuat kabur: tinggi, tebal, dan sulit diverifikasi.

Hari Kedua Kurusetra: Statistik Ekonomi Baik-Baik Saja (Versi Slide Resmi)

 Dongeng Sibu Bayan #039


Tulisan ini penulis mulai sekitar pukul sebelas malam, di penginapan kecil di Kutorejo, Kalipait, sebelum masuk Alas Purwo. Tempatnya sederhana. Lampu redup seperti ikut program penghematan nasional, dinding lembab yang terasa lebih jujur dari laporan resmi, dan suara jangkrik seperti siaran tanpa narasumber yang tetap tayang setiap malam. Penulis sebenarnya ingin istirahat, tetapi sejak hari pertama, Wisanggeni tidak pernah memberi ruang. Ia muncul lagi malam ini, berdiri di sudut seperti notifikasi yang tidak bisa di-mute. “Lanjut,” katanya pendek. Penulis mencoba menawar, “besok saja,” tetapi Wisanggeni menggeleng, “besok sudah jadi versi konten, dipotong, diberi musik optimis, diberi judul kebijakan tepat sasaran. Yang sekarang masih mentah, masih terlihat retakan kegagalan kebijakan ekonomi yang belum ditutup utang narasi.” Penulis menyerah, duduk kembali, membuka catatan, seperti orang yang sadar kenyataan tidak punya tombol skip.

Pintu berderit pelan. Bagong masuk membawa singkong, duduk santai. “Ini lagi tren apa? Krisis atau klarifikasi?” Petruk muncul sambil nyengir, “bukan krisis, itu terlalu jujur…..sekarang istilahnya penyesuaian kebijakan.” Gareng ikut duduk dan menambahkan, “atau evaluasi berkelanjutan atas strategi ekonomi.” Semar menyeruput kopi pahit, “kalau terlalu pahit, nanti disebut dampak eksternal.” Penulis menoleh ke pojok. Togog sudah duduk di sana, diam, seperti orang dalam yang tahu sejak awal kebijakan ini tidak harus berhasil, cukup terlihat berjalan. 

“Besok hari kedua,” kata Wisanggeni. Petruk langsung menyela, “hari kedua perang atau hari kedua penjelasan?” Wisanggeni menjawab datar, “perangnya belum selesai, tapi penjelasannya sudah siap.” Bagong berhenti mengunyah, “cepat juga, biasanya penjelasan nunggu masalah,” dan Togog tertawa kecil, “kalau kebijakannya gagal, penjelasannya harus lebih cepat dari kegagalannya.” Lampu berkedip, seperti ikut mengerti. 

Hari Pertama Kurusetra: Nasib Kapal dari Negeri Netral

Dongeng Sibu Bayan #038


Tulisan ini penulis catat di penginapan tua Desa Rawabendo, malam yang lembab dengan suara jangkrik seperti siaran langsung dari masa lalu. Cat tembok mengelupas, lampu redup, dan meja kayu bundar di depan penulis menjadi saksi ketika Wisanggeni muncul dari balik gelap seperti kilat yang tahu alamatnya sendiri. Sejak pertemuan pertama kami di lereng Semeru, ia selalu datang sebagai pembawa kabar yang tak pernah nyaman, informasi yang belum sempat menjadi siaran pers. Malam ini wajahnya lebih menyala dari biasanya. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Perang sudah dimulai,” katanya pendek. “Belum resmi di panggung wayang, tapi resmi di laut dan udara.”

Palagan Kurusetra: Geger Awal

 Dongen Sibu Bayan #037

Rawabendo adalah desa kecil di kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Gerbang Taman Nasional Alas Purwo. Sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi Cagar Alam, sampai kemudian diteruskan pemerintah Republik Indonesia menjadi Taman Nasional hingga saat ini. Tempat ini menyimpan berbagai kisah, yang bahkan diselimuti mitologi. Namun, tulisan ini tidak akan mengisahkan tentang kisah-kisah Alas Purwo, melainkan kisah yang dicatat penulis di penginapan tua desa Rawabendo. Penulis kembali bertemu dengan Wisanggeni. Tokoh yang sudah pernah bertemu di lereng Gunung Semeru. Tidak hanya Wisanggeni, Bagong dan Kyai Semar juga sudah siap di meja bundar. Ditemani singkong rebus, kopi pahit dan asap kretek kami ngobrol ngalor ngidul, kadang serius, kadang tertawa masam…ya begitulah. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Saya baru tiba dari ibu kota Mas…., absurd sekali pemandangan demo disana…” ujar Wisanggeni dengan nada satirnya.