Hari Ketiga Kurusetra: Negeri Omon-Omon dan Darurat NPD

 Dongeng Sibu Bayan #040


Pagi ini penulis sebenarnya ingin rehat sejenak dalam kesendirian, menikmati kopi lokal yang ditanam para pesanggem di kawasan hutan sekitar Alas Purwo. Rencana sederhana: diam, minum, dan tidak terlibat dalam urusan kosmik apa pun. Tapi tentu saja, rencana manusia sering kali kalah oleh jadwal para tokoh pewayangan.

Togog dan Bilung datang tergopoh-gopoh, seperti dua notulen yang kehilangan rapatnya sendiri, lalu meminta penulis membantu merekam ulang kejadian yang katanya, tidak boleh hilang dari ingatan sejarah. Tentu saja caranya satu: menulis.

Dan di titik itu, penulis paham. Ini bukan lagi soal rehat atau kopi. Ini soal ditarik kembali ke medan Kurusetra, tempat bahkan diam pun bisa dianggap sikap politik. Ya sudah. Apa daya. Kalau sudah ditarik ke dunia magis pewayangan, penulis hanya bisa mengikuti alur yang sejak awal sudah disusun sang dalang......meski kadang dalangnya lebih mirip algoritma yang suka mengulang kekacauan dengan versi berbeda.

Di hari ketiga Perang Kurusetra, tanah mulai kehilangan kemampuan membedakan mana darah dan mana lumpur janji. Debu perang naik seperti laporan statistik yang sengaja dibuat kabur: tinggi, tebal, dan sulit diverifikasi.

Hari Kedua Kurusetra: Statistik Ekonomi Baik-Baik Saja (Versi Slide Resmi)

 Dongeng Sibu Bayan #039


Tulisan ini penulis mulai sekitar pukul sebelas malam, di penginapan kecil di Kutorejo, Kalipait, sebelum masuk Alas Purwo. Tempatnya sederhana. Lampu redup seperti ikut program penghematan nasional, dinding lembab yang terasa lebih jujur dari laporan resmi, dan suara jangkrik seperti siaran tanpa narasumber yang tetap tayang setiap malam. Penulis sebenarnya ingin istirahat, tetapi sejak hari pertama, Wisanggeni tidak pernah memberi ruang. Ia muncul lagi malam ini, berdiri di sudut seperti notifikasi yang tidak bisa di-mute. “Lanjut,” katanya pendek. Penulis mencoba menawar, “besok saja,” tetapi Wisanggeni menggeleng, “besok sudah jadi versi konten, dipotong, diberi musik optimis, diberi judul kebijakan tepat sasaran. Yang sekarang masih mentah, masih terlihat retakan kegagalan kebijakan ekonomi yang belum ditutup utang narasi.” Penulis menyerah, duduk kembali, membuka catatan, seperti orang yang sadar kenyataan tidak punya tombol skip.

Pintu berderit pelan. Bagong masuk membawa singkong, duduk santai. “Ini lagi tren apa? Krisis atau klarifikasi?” Petruk muncul sambil nyengir, “bukan krisis, itu terlalu jujur…..sekarang istilahnya penyesuaian kebijakan.” Gareng ikut duduk dan menambahkan, “atau evaluasi berkelanjutan atas strategi ekonomi.” Semar menyeruput kopi pahit, “kalau terlalu pahit, nanti disebut dampak eksternal.” Penulis menoleh ke pojok. Togog sudah duduk di sana, diam, seperti orang dalam yang tahu sejak awal kebijakan ini tidak harus berhasil, cukup terlihat berjalan. 

“Besok hari kedua,” kata Wisanggeni. Petruk langsung menyela, “hari kedua perang atau hari kedua penjelasan?” Wisanggeni menjawab datar, “perangnya belum selesai, tapi penjelasannya sudah siap.” Bagong berhenti mengunyah, “cepat juga, biasanya penjelasan nunggu masalah,” dan Togog tertawa kecil, “kalau kebijakannya gagal, penjelasannya harus lebih cepat dari kegagalannya.” Lampu berkedip, seperti ikut mengerti. 

Hari Pertama Kurusetra: Nasib Kapal dari Negeri Netral

Dongeng Sibu Bayan #038


Tulisan ini penulis catat di penginapan tua Desa Rawabendo, malam yang lembab dengan suara jangkrik seperti siaran langsung dari masa lalu. Cat tembok mengelupas, lampu redup, dan meja kayu bundar di depan penulis menjadi saksi ketika Wisanggeni muncul dari balik gelap seperti kilat yang tahu alamatnya sendiri. Sejak pertemuan pertama kami di lereng Semeru, ia selalu datang sebagai pembawa kabar yang tak pernah nyaman, informasi yang belum sempat menjadi siaran pers. Malam ini wajahnya lebih menyala dari biasanya. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Perang sudah dimulai,” katanya pendek. “Belum resmi di panggung wayang, tapi resmi di laut dan udara.”

Palagan Kurusetra: Geger Awal

 Dongen Sibu Bayan #037

Rawabendo adalah desa kecil di kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Gerbang Taman Nasional Alas Purwo. Sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi Cagar Alam, sampai kemudian diteruskan pemerintah Republik Indonesia menjadi Taman Nasional hingga saat ini. Tempat ini menyimpan berbagai kisah, yang bahkan diselimuti mitologi. Namun, tulisan ini tidak akan mengisahkan tentang kisah-kisah Alas Purwo, melainkan kisah yang dicatat penulis di penginapan tua desa Rawabendo. Penulis kembali bertemu dengan Wisanggeni. Tokoh yang sudah pernah bertemu di lereng Gunung Semeru. Tidak hanya Wisanggeni, Bagong dan Kyai Semar juga sudah siap di meja bundar. Ditemani singkong rebus, kopi pahit dan asap kretek kami ngobrol ngalor ngidul, kadang serius, kadang tertawa masam…ya begitulah. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Saya baru tiba dari ibu kota Mas…., absurd sekali pemandangan demo disana…” ujar Wisanggeni dengan nada satirnya.

Udyoga Parwa: Tanah untuk Siapa ?

Dongeng Sibu Bayan #36

(Diceritakan oleh Kyai Sanjaya di Curah Jati, Banyuwangi kepada Penulis. Lakon ini adalah prolog perang Baratayudha)

(Sanjaya)

Perjalanan penulis sudah mulai dekat dengan Alas Purwo. Penulis merasakan angin malam dari arah Alas Purwo yang bercampur dengan aroma kopi robusta. Malam itu, di beranda sebuah rumah kayu yang jadi kedai kopi di Curah Jati, penulis mendengarkan kisah dari orang tua bernama Kyai Sanjaya, yang saat ini menjadi barista. Dulu, di jaman pewayangan beliau adalah mata bagi Destarata yang buta, ayah para kesatria Kurawa. Beliau adalah murid terkasih Begawan Abiyasa dan bukan keturunan bangsawan Kuru atau Bharata.

Sanjaya duduk bersila di depan penulis, matanya tajam, suara beratnya serupa gemuruh yang diserap tanah. “Nak Penulis,” ucapnya lirih, “orang-orang selalu bilang aku hanya tukang catat. Tapi ingatlah, mencatat juga berarti ikut menanggung luka. Aku pernah melihat sendiri bagaimana darah dan tanah jadi rebutan, dari Kurawa sampai Pandawa. Dan kini, entah kenapa, kisah itu hidup lagi di tanahmu.”

“Begini, Nak Penulis,” katanya pelan, “Perundingan sebelum Perang Bharatayudha itu bukan sekadar kisah diplomasi. Itu soal tanah, kekuasaan, dan siapa yang boleh hidup di atas bumi. Sama seperti di negeri ini, tanah untuk rakyat katanya, tapi yang kenyang selalu para raja dan kesatria.”

Sabha Agung Jana Nagari

Dongeng Sibu Bayan #035
(Diceritakan oleh Baladewa pada Penulis di tepi Alas Gumitir)

(Baladewa)

Perbincangan di Curah Damar makin gayeng setelah kedatangan Baladewa. Dia adalah kakak dari Krisna, tindak tanduknya tegas tanpa basa-basi.

“Gong, bikin kopi ya…yang kental, gulanya seujung sendok saja!”

Tiba-tiba saja ia langsung minta Bagong bikin kopi

Bagong bengong sebentar, lalu nyeletuk, “Wah, sampeyan ini kayak pejabat lagi sidak, langsung minta kopi tanpa tanya tuan rumah. Oke siap, Kangmas! Tapi hati-hati, kalau kopinya kemanisan, jangan-jangan nanti dianggap gratifikasi.”

Tawa kecil terdengar, tapi Baladewa tetap serius. Ia menatap Penulis sambil berujar lantang:

“Oh…ini si Penulis yang diceritakan adikku Krisna. Sedang gosip apa sama Ekalaya?”

“Ngopi dulu kangmas Baladewa,” sela Ekalaya menenangkan, “ini sedang cerita-cerita ngalor ngidul menjelang geger Baratayudha dulu. Rakyat makin bingung, penguasa makin lihai bikin aturan. Semua katanya demi ketertiban. Tapi kok yang tertib justru cuma isi pidato, bukan isi perut.” (baca juga: Lelagon Sesaji Rajasuya: Jebakan Pajak Rakyat)

Baladewa mengangguk pendek. “Adikku Krisna sering bilang, kadang yang manis di mulut penguasa justru pahit di hati rakyat.”

Lelagon Sesaji Rajasuya: Jebakan Pajak Rakyat

 Dongeng Sibu Bayan #034 (Diceritakan oleh Ekalaya pada penulis di tepi Alas Gumitir")

(Ekalaya)

Curah Damar, gerbang sunyi di perbatasan Banyuwangi, di tepian Alas Gumitir. Kabut turun seperti tirai, menutupi jejak-jejak kisah lama yang bercampur antara sejarah dan mitologi. Tapi tulisan ini  tidak mengisahkan legenda Alas Gumitir. Kisah ini lahir dari bibir seorang lelaki sederhana yang dijumpai penulis di warung kopi: Ekalaya. Bukan bangsawan, bukan Pandawa, bukan pula Kurawa. Lahir di hutan Nishada, jauh dari hiruk pikuk istana, kejujuran, kecerdasan dan kesaktiannya pernah membuat para ksatria biru Pandawa dan Kurawa pucat pasi. Dari hutan ia datang, ke hutan ia kembali, dan kini ia berdiam di tepian Gumitir, menyeruput kopi pekat Curah Damar.

Di sela embusan asap kopi dan aroma kretek, ia menuturkan sebuah cerita, kisah getir ketika para elit memelintir kepercayaan rakyat, menunggu krisis meledak demi agenda mereka sendiri. “Rajasuya,” kata Ekalaya pelan, “bukan sekadar upacara suci. Ia pernah menjadi jebakan pajak rakyat.”