Hari Kelima Kurusetra: Lumbung Merah Putih

 Dongeng SiBu Bayan #042


Penulis telah meninggalkan Alas Purwo. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Mobil melaju perlahan membelah jalan yang lengang menuju utara. Sesekali cahaya lampu menyapu batang-batang pohon jati yang berdiri diam seperti barisan penjaga malam. Di sebelah kanan terdengar samar debur ombak Laut Jawa yang datang dan pergi, seolah sedang mengulang kisah-kisah tua yang tak pernah selesai diceritakan. Udara mulai terasa asin. Tak ada kendaraan lain. Hanya gelap, jalan, dan pikiran yang masih tertinggal di Alas Purwo.

Kini penulis berada di kawasan Bajulmati, beberapa kilometer sebelum memasuki Taman Nasional Baluran dari arah Banyuwangi. Nama itu selalu terdengar ganjil. Mengapa seekor buaya harus mati agar sebuah tempat memperoleh namanya? Atau mungkin negeri ini memang gemar memberi nama sebelum sempat memahami kisahnya.

Jalanan nyaris lengang ketika telepon genggam bergetar.

Semar.

"Mas… kalau belum terlalu jauh, putar baliklah."

"Ada apa, Kyai?"

"Hari ini perang memasuki hari kelima."

Hari Keempat Kurusetra: Gajah-Gajah Penjaga Rupiah dan Bursa

 Dongeng Sibu Bayan #041


Sebenarnya penulis sudah berniat meninggalkan Alas Purwo. Setelah semalam mendengarkan kisah hari ketiga Perang Baratayudha tentang Negeri Omon-Omon, rasanya kepala penulis sudah cukup penuh oleh cerita para pejabat Hastinapura yang lebih sibuk mengelola kata-kata daripada kenyataan. Hutan yang semestinya menjadi tempat mencari ketenangan perlahan berubah menjadi ruang kuliah terbuka tentang perang, kekuasaan, dan segala tingkah laku manusia yang kadang lebih sulit dipahami daripada suara burung di tengah malam.

Sore itu penulis mulai berkemas. Buku catatan sudah masuk ransel. Baju-baju sudah dilipat. Rencananya besok pagi penulis akan menuju Jember. Penulis tidak ingin terlalu lama tinggal di Alas Purwo. Angin laut selatan yang berembus di sela pohon nyamplung jauh lebih menenangkan daripada laporan korban perang yang datang setiap hari.

Namun, ketika penulis hendak melangkah keluar dari penginapan kecil tempat penulis menginap, seseorang memanggil dari ruang depan.

Ternyata Bagong dan Petruk sedang berdiri di depan televisi tua yang tergantung di sudut lobi. Dengan wajah serius yang jarang penulis lihat, keduanya meminta penulis mendekat.

"Mas... lihat ini dulu."

Di layar televisi tampak ribuan mahasiswa memenuhi jalan-jalan ibu kota Hastinapura. Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara. Sebagian berorasi dengan semangat, sebagian lain tampak sibuk merekam diri sendiri. Di bagian bawah layar muncul tulisan besar: REPOT NASI JILID II

Hari Ketiga Kurusetra: Negeri Omon-Omon dan Darurat NPD

 Dongeng Sibu Bayan #040


Pagi ini penulis sebenarnya ingin rehat sejenak dalam kesendirian, menikmati kopi lokal yang ditanam para pesanggem di kawasan hutan sekitar Alas Purwo. Rencana sederhana: diam, minum, dan tidak terlibat dalam urusan kosmik apa pun. Tapi tentu saja, rencana manusia sering kali kalah oleh jadwal para tokoh pewayangan.

Togog dan Bilung datang tergopoh-gopoh, seperti dua notulen yang kehilangan rapatnya sendiri, lalu meminta penulis membantu merekam ulang kejadian yang katanya, tidak boleh hilang dari ingatan sejarah. Tentu saja caranya satu: menulis.

Dan di titik itu, penulis paham. Ini bukan lagi soal rehat atau kopi. Ini soal ditarik kembali ke medan Kurusetra, tempat bahkan diam pun bisa dianggap sikap politik. Ya sudah. Apa daya. Kalau sudah ditarik ke dunia magis pewayangan, penulis hanya bisa mengikuti alur yang sejak awal sudah disusun sang dalang......meski kadang dalangnya lebih mirip algoritma yang suka mengulang kekacauan dengan versi berbeda.

Di hari ketiga Perang Kurusetra, tanah mulai kehilangan kemampuan membedakan mana darah dan mana lumpur janji. Debu perang naik seperti laporan statistik yang sengaja dibuat kabur: tinggi, tebal, dan sulit diverifikasi.

Hari Kedua Kurusetra: Statistik Ekonomi Baik-Baik Saja (Versi Slide Resmi)

 Dongeng Sibu Bayan #039


Tulisan ini penulis mulai sekitar pukul sebelas malam, di penginapan kecil di Kutorejo, Kalipait, sebelum masuk Alas Purwo. Tempatnya sederhana. Lampu redup seperti ikut program penghematan nasional, dinding lembab yang terasa lebih jujur dari laporan resmi, dan suara jangkrik seperti siaran tanpa narasumber yang tetap tayang setiap malam. Penulis sebenarnya ingin istirahat, tetapi sejak hari pertama, Wisanggeni tidak pernah memberi ruang. Ia muncul lagi malam ini, berdiri di sudut seperti notifikasi yang tidak bisa di-mute. “Lanjut,” katanya pendek. Penulis mencoba menawar, “besok saja,” tetapi Wisanggeni menggeleng, “besok sudah jadi versi konten, dipotong, diberi musik optimis, diberi judul kebijakan tepat sasaran. Yang sekarang masih mentah, masih terlihat retakan kegagalan kebijakan ekonomi yang belum ditutup utang narasi.” Penulis menyerah, duduk kembali, membuka catatan, seperti orang yang sadar kenyataan tidak punya tombol skip.

Pintu berderit pelan. Bagong masuk membawa singkong, duduk santai. “Ini lagi tren apa? Krisis atau klarifikasi?” Petruk muncul sambil nyengir, “bukan krisis, itu terlalu jujur…..sekarang istilahnya penyesuaian kebijakan.” Gareng ikut duduk dan menambahkan, “atau evaluasi berkelanjutan atas strategi ekonomi.” Semar menyeruput kopi pahit, “kalau terlalu pahit, nanti disebut dampak eksternal.” Penulis menoleh ke pojok. Togog sudah duduk di sana, diam, seperti orang dalam yang tahu sejak awal kebijakan ini tidak harus berhasil, cukup terlihat berjalan. 

“Besok hari kedua,” kata Wisanggeni. Petruk langsung menyela, “hari kedua perang atau hari kedua penjelasan?” Wisanggeni menjawab datar, “perangnya belum selesai, tapi penjelasannya sudah siap.” Bagong berhenti mengunyah, “cepat juga, biasanya penjelasan nunggu masalah,” dan Togog tertawa kecil, “kalau kebijakannya gagal, penjelasannya harus lebih cepat dari kegagalannya.” Lampu berkedip, seperti ikut mengerti. 

Hari Pertama Kurusetra: Nasib Kapal dari Negeri Netral

Dongeng Sibu Bayan #038


Tulisan ini penulis catat di penginapan tua Desa Rawabendo, malam yang lembab dengan suara jangkrik seperti siaran langsung dari masa lalu. Cat tembok mengelupas, lampu redup, dan meja kayu bundar di depan penulis menjadi saksi ketika Wisanggeni muncul dari balik gelap seperti kilat yang tahu alamatnya sendiri. Sejak pertemuan pertama kami di lereng Semeru, ia selalu datang sebagai pembawa kabar yang tak pernah nyaman, informasi yang belum sempat menjadi siaran pers. Malam ini wajahnya lebih menyala dari biasanya. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Perang sudah dimulai,” katanya pendek. “Belum resmi di panggung wayang, tapi resmi di laut dan udara.”

Palagan Kurusetra: Geger Awal

 Dongen Sibu Bayan #037

Rawabendo adalah desa kecil di kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Gerbang Taman Nasional Alas Purwo. Sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi Cagar Alam, sampai kemudian diteruskan pemerintah Republik Indonesia menjadi Taman Nasional hingga saat ini. Tempat ini menyimpan berbagai kisah, yang bahkan diselimuti mitologi. Namun, tulisan ini tidak akan mengisahkan tentang kisah-kisah Alas Purwo, melainkan kisah yang dicatat penulis di penginapan tua desa Rawabendo. Penulis kembali bertemu dengan Wisanggeni. Tokoh yang sudah pernah bertemu di lereng Gunung Semeru. Tidak hanya Wisanggeni, Bagong dan Kyai Semar juga sudah siap di meja bundar. Ditemani singkong rebus, kopi pahit dan asap kretek kami ngobrol ngalor ngidul, kadang serius, kadang tertawa masam…ya begitulah. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Saya baru tiba dari ibu kota Mas…., absurd sekali pemandangan demo disana…” ujar Wisanggeni dengan nada satirnya.

Udyoga Parwa: Tanah untuk Siapa ?

Dongeng Sibu Bayan #36

(Diceritakan oleh Kyai Sanjaya di Curah Jati, Banyuwangi kepada Penulis. Lakon ini adalah prolog perang Baratayudha)

(Sanjaya)

Perjalanan penulis sudah mulai dekat dengan Alas Purwo. Penulis merasakan angin malam dari arah Alas Purwo yang bercampur dengan aroma kopi robusta. Malam itu, di beranda sebuah rumah kayu yang jadi kedai kopi di Curah Jati, penulis mendengarkan kisah dari orang tua bernama Kyai Sanjaya, yang saat ini menjadi barista. Dulu, di jaman pewayangan beliau adalah mata bagi Destarata yang buta, ayah para kesatria Kurawa. Beliau adalah murid terkasih Begawan Abiyasa dan bukan keturunan bangsawan Kuru atau Bharata.

Sanjaya duduk bersila di depan penulis, matanya tajam, suara beratnya serupa gemuruh yang diserap tanah. “Nak Penulis,” ucapnya lirih, “orang-orang selalu bilang aku hanya tukang catat. Tapi ingatlah, mencatat juga berarti ikut menanggung luka. Aku pernah melihat sendiri bagaimana darah dan tanah jadi rebutan, dari Kurawa sampai Pandawa. Dan kini, entah kenapa, kisah itu hidup lagi di tanahmu.”

“Begini, Nak Penulis,” katanya pelan, “Perundingan sebelum Perang Bharatayudha itu bukan sekadar kisah diplomasi. Itu soal tanah, kekuasaan, dan siapa yang boleh hidup di atas bumi. Sama seperti di negeri ini, tanah untuk rakyat katanya, tapi yang kenyang selalu para raja dan kesatria.”