Dongeng Sibu Bayan #040
Pagi ini penulis sebenarnya ingin rehat sejenak dalam kesendirian, menikmati kopi lokal yang ditanam para pesanggem di kawasan hutan sekitar Alas Purwo. Rencana sederhana: diam, minum, dan tidak terlibat dalam urusan kosmik apa pun. Tapi tentu saja, rencana manusia sering kali kalah oleh jadwal para tokoh pewayangan.
Togog dan Bilung
datang tergopoh-gopoh, seperti dua notulen yang kehilangan rapatnya sendiri,
lalu meminta penulis membantu merekam ulang kejadian yang katanya, tidak boleh
hilang dari ingatan sejarah. Tentu saja caranya satu: menulis.
Dan di titik itu,
penulis paham. Ini bukan lagi soal rehat atau kopi. Ini soal ditarik kembali ke
medan Kurusetra, tempat bahkan diam pun bisa dianggap sikap politik. Ya sudah.
Apa daya. Kalau sudah ditarik ke dunia magis pewayangan, penulis hanya bisa mengikuti
alur yang sejak awal sudah disusun sang dalang......meski kadang dalangnya
lebih mirip algoritma yang suka mengulang kekacauan dengan versi berbeda.
Di hari ketiga Perang Kurusetra, tanah mulai kehilangan kemampuan membedakan mana darah dan mana lumpur janji. Debu perang naik seperti laporan statistik yang sengaja dibuat kabur: tinggi, tebal, dan sulit diverifikasi.






