Dongeng SiBu Bayan #042
Penulis telah meninggalkan Alas Purwo. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Mobil melaju perlahan membelah jalan yang lengang menuju utara. Sesekali cahaya lampu menyapu batang-batang pohon jati yang berdiri diam seperti barisan penjaga malam. Di sebelah kanan terdengar samar debur ombak Laut Jawa yang datang dan pergi, seolah sedang mengulang kisah-kisah tua yang tak pernah selesai diceritakan. Udara mulai terasa asin. Tak ada kendaraan lain. Hanya gelap, jalan, dan pikiran yang masih tertinggal di Alas Purwo.
Kini penulis
berada di kawasan Bajulmati, beberapa kilometer sebelum memasuki Taman Nasional
Baluran dari arah Banyuwangi. Nama itu selalu terdengar ganjil. Mengapa seekor
buaya harus mati agar sebuah tempat memperoleh namanya? Atau mungkin negeri ini
memang gemar memberi nama sebelum sempat memahami kisahnya.
Jalanan nyaris
lengang ketika telepon genggam bergetar.
Semar.
"Mas… kalau belum terlalu jauh,
putar baliklah."
"Ada apa,
Kyai?"
"Hari ini perang memasuki hari kelima."




