Hari Kedua Kurusetra: Statistik Ekonomi Baik-Baik Saja (Versi Slide Resmi)

 Dongeng Sibu Bayan #039


Tulisan ini penulis mulai sekitar pukul sebelas malam, di penginapan kecil di Kutorejo, Kalipait, sebelum masuk Alas Purwo. Tempatnya sederhana. Lampu redup seperti ikut program penghematan nasional, dinding lembab yang terasa lebih jujur dari laporan resmi, dan suara jangkrik seperti siaran tanpa narasumber yang tetap tayang setiap malam. Penulis sebenarnya ingin istirahat, tetapi sejak hari pertama, Wisanggeni tidak pernah memberi ruang. Ia muncul lagi malam ini, berdiri di sudut seperti notifikasi yang tidak bisa di-mute. “Lanjut,” katanya pendek. Penulis mencoba menawar, “besok saja,” tetapi Wisanggeni menggeleng, “besok sudah jadi versi konten, dipotong, diberi musik optimis, diberi judul kebijakan tepat sasaran. Yang sekarang masih mentah, masih terlihat retakan kegagalan kebijakan ekonomi yang belum ditutup utang narasi.” Penulis menyerah, duduk kembali, membuka catatan, seperti orang yang sadar kenyataan tidak punya tombol skip.

Pintu berderit pelan. Bagong masuk membawa singkong, duduk santai. “Ini lagi tren apa? Krisis atau klarifikasi?” Petruk muncul sambil nyengir, “bukan krisis, itu terlalu jujur…..sekarang istilahnya penyesuaian kebijakan.” Gareng ikut duduk dan menambahkan, “atau evaluasi berkelanjutan atas strategi ekonomi.” Semar menyeruput kopi pahit, “kalau terlalu pahit, nanti disebut dampak eksternal.” Penulis menoleh ke pojok. Togog sudah duduk di sana, diam, seperti orang dalam yang tahu sejak awal kebijakan ini tidak harus berhasil, cukup terlihat berjalan. 

“Besok hari kedua,” kata Wisanggeni. Petruk langsung menyela, “hari kedua perang atau hari kedua penjelasan?” Wisanggeni menjawab datar, “perangnya belum selesai, tapi penjelasannya sudah siap.” Bagong berhenti mengunyah, “cepat juga, biasanya penjelasan nunggu masalah,” dan Togog tertawa kecil, “kalau kebijakannya gagal, penjelasannya harus lebih cepat dari kegagalannya.” Lampu berkedip, seperti ikut mengerti. 

Pagi di Kurusetra datang seperti video buffering….yang penting tidak terlihat jelas, yang tidak penting justru jernih. Namun di dalam istana, semuanya tampak siap tayang. Sanjaya berdiri di depan layar lebar, membuka slide pertama. Latar belakangnya bersih, grafiknya hijau, panah-panahnya mengarah ke atas. Ia mulai membacakan dengan suara yang tidak memberi ruang untuk ragu: pertumbuhan tetap terjaga, defisit terkendali, utang dalam batas aman, cadangan devisa cukup, dan daya beli masyarakat masih kuat. Di pojok slide tertulis kecil: resilien di tengah tekanan global. Ia menambahkan bahwa kebijakan ekonomi berjalan efektif, meski di lapangan terlihat seperti eksperimen yang belum selesai.

Raja mengangguk puas. “Jadi tidak ada kegagalan?”

Sanjaya mengganti slide.

“Tidak ada, Paduka. Yang ada hanya tantangan implementasi dan persepsi publik.”

Grafik berikutnya muncul, lebih hijau, lebih naik. Raja tersenyum, seolah kegagalan memang bisa dihapus dengan mengganti template.

Di pinggir Kurusetra, papan indikator menunjukkan cerita yang berbeda. Angka-angka berdiri terlalu jujur, seperti saksi yang belum sempat diamankan. “Yang ini hapus,” kata Petruk sambil menunjuk angka defisit yang melebar. “Kenapa?” tanya Gareng. “Terlalu terlihat gagal,” jawab Petruk santai. Bagong melihat angka itu dan berkata pelan, “itu akibat kebijakan yang salah arah,” tetapi Petruk sudah menggantinya, “bukan salah arah, ini realignment kebijakan fiskal.” Gareng mencoba mengikuti, “realignment… berarti sebelumnya salah?” Petruk tersenyum, “bukan salah, hanya kurang optimal.” Bagong menggeleng, “jadi gagal tapi sopan.” Semar menambahkan pelan, “atau gagal yang dilaporkan sebagai keberanian mencoba.” Petruk lalu menggambar satu grafik naik yang mulus dan berkata, “ini pertumbuhan,” seolah grafik bisa menghapus apa yang terjadi di bawahnya.

“Kalau di slide semua naik,” kata Bagong sambil menggigit singkong, “berarti yang turun disimpan di bawah layar.”

Tidak ada yang membantah.

Menjelang siang, prajurit mulai menjual perlengkapannya. Helm jadi makanan, pedang jadi air, dan zirah jadi waktu tambahan untuk bertahan hidup. Namun dalam slide berikutnya, semua itu berubah menjadi “peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.” Bagong bertanya, “ramai itu berarti apa?” sambil mengangkat singkongnya, “kalau banyak yang lihat tapi nggak beli, itu tetap ramai?” Petruk menjawab santai, “yang penting indikatornya bergerak,” Gareng menambahkan, “meski daya beli turun,” dan Semar berkata pelan, “yang bergerak hanya kebutuhan, bukan kemampuan.” Togog ikut menimpali, “tapi judulnya tetap: kebijakan berhasil menjaga konsumsi.”

Wisanggeni kembali berbicara, lebih pelan dari sebelumnya. “Angkanya tidak salah,” katanya, membuat semua diam, “tapi yang salah adalah kebijakan yang memaksa angka itu terlihat benar.” Togog tersenyum tipis, “di istana, yang penting bukan hasil kebijakan,” lalu Bagong bertanya, “lalu apa?” dan ia menjawab singkat, “yang penting kebijakan itu terlihat bekerja.” Petruk menambahkan, “meski harus ditopang utang narasi,” Gareng berkata, “dan dijaga dengan optimisme berulang,” dan Bagong mengangguk, “kalau gagal berkali-kali tapi tetap disebut berhasil, itu namanya konsistensi.”

Hari semakin malam, seperti siaran ulang yang tidak pernah diperbaiki. Di istana, slide terakhir ditampilkan. Judulnya besar, huruf tebal, penuh keyakinan: kinerja ekonomi tetap kuat. Di bawahnya, bullet point tersusun rapi, pertumbuhan terjaga, stabilitas kuat, defisit terkendali, utang aman, cadangan devisa cukup, daya beli masyarakat resilien. Tidak ada catatan kaki. Tidak ada bagian yang hilang. Tidak ada yang bertanya.

Di Kurusetra, perang masih berlangsung.

Penulis menutup buku catatan. Lampu berkedip sekali, lalu stabil, seperti ikut menjaga narasi. Ketika menoleh, ruangan sudah kosong. Tidak ada Wisanggeni. Tidak ada punokawan. Tidak ada siapa pun. Namun halaman terakhir sudah terisi, tulisan tangan penulis sendiri, lebih rapi dari biasanya, seperti sudah melalui proses penyuntingan kebijakan. Kalimat terakhir terbaca jelas: perang belum selesai, tetapi statistik sudah menentukan siapa yang menang. Dan sejak saat itu, kegagalan tidak lagi perlu diakui, cukup disebut sebagai penyesuaian kebijakan, dijaga stabilitasnya, dan jika perlu, dinaikkan pertumbuhannya sampai terlihat seperti keberhasilan.

Cerita sebelumnya: Hari Pertama Kurusetra: Nasib Kapal dari Negeri Netral

(Sibu Bayan)

No comments:

Post a Comment