Hari Pertama Kurusetra: Nasib Kapal dari Negeri Netral

Dongeng Sibu Bayan #038


Tulisan ini penulis catat di penginapan tua Desa Rawabendo, malam yang lembab dengan suara jangkrik seperti siaran langsung dari masa lalu. Cat tembok mengelupas, lampu redup, dan meja kayu bundar di depan penulis menjadi saksi ketika Wisanggeni muncul dari balik gelap seperti kilat yang tahu alamatnya sendiri. Sejak pertemuan pertama kami di lereng Semeru, ia selalu datang sebagai pembawa kabar yang tak pernah nyaman, informasi yang belum sempat menjadi siaran pers. Malam ini wajahnya lebih menyala dari biasanya. (baca juga: Wisanggeni Gugat, Pandawa Kecanduan Judol dan Pandawa Dadu, Panggung Negeri +62)

“Perang sudah dimulai,” katanya pendek. “Belum resmi di panggung wayang, tapi resmi di laut dan udara.”

Bagong sudah duduk duluan dengan singkong rebus. Kyai Semar menyesap kopi pahit tanpa gula. Petruk dan Gareng bersandar santai, sementara Togog muncul seperti staf ahli yang selalu tahu kabar dari dua kubu sekaligus. Asap kretek naik perlahan ketika Wisanggeni mulai memaparkan situasi. Amerika dan Israel menyerang. Iran membalas. Timur Tengah memanas seperti kompor yang lupa dimatikan. Dan di Selat Hormuz, jalur minyak dunia itu, ketegangan membuat kapal-kapal tertahan.

Penulis membuka buku catatan. Tugas sederhana, menulis sejelas mungkin apa yang akan mereka sampaikan.

“Dua kapal tanker milik Amarta Nuswantara +62 ikut tersendat,” ujar Wisanggeni. “Bukan kapal perang. Hanya pembawa BBM. Tapi dunia sekarang tidak membedakan kapal dan sikap.”

Di dataran Kurusetra, kedua kubu sudah berdiri gagah. Bhishma mengangkat panah, Drona menyusun formasi, dan Duryodana tersenyum seperti orang yang sudah memesan katering kemenangan jauh-jauh hari. Genderang perang ditabuh. Tetapi, kata Wisanggeni sambil menatap penulis, “Yang paling bising justru pidato tentang perdamaian.”

Yudhistira berdiri di tengah alun-alun dan menyatakan, “Kita menjunjung dharma. Kita tidak memihak. Kita mendukung solusi dua negara. Kita mendukung perdamaian global.”

Bagong mengangkat tangan polos, “Kalau tidak memihak, kenapa ikut rapat yang diadakan Duryodana?”

Arjuna yang bergaya bijak menjawab, “Itu bukan rapat perang. Itu Board of Peace.”

Petruk terbahak. “Board of Peace? Arisan tapi yang setor misil.”

Gareng mencatat di gawainya: Damai = forum yang dipimpin pihak yang sedang mengirim panah.

Togog mencoba menengahi. “Kalau ikut forum itu, suara kita didengar dunia.”

“Didengar atau dipajang?” sahut Bagong.

Wisanggeni menyela, “Tulis itu. Kadang yang disebut netral hanyalah posisi duduk yang rapi.”

Sementara itu, di negeri +62, persoalan mulai merambat ke dapur. Harga minyak dunia bergetar. BBM terancam naik. Subsidi membengkak. Anggaran negara terengah. Rupiah limbung seperti ksatria yang belum sarapan. Para menteri sibuk menghitung. Berapa beban fiskal, berapa risiko inflasi, berapa potensi gejolak sosial.

“Kurusetra bukan cuma soal panah,” kata Wisanggeni pelan. “Ia juga soal angka-angka di papan APBN.”

Penulis berhenti menulis sejenak.

Semar mengangguk pelan. “Kalau BBM naik, ongkos naik. Ongkos naik, harga naik. Harga naik, hati rakyat panas. Itu bahan bakar yang lebih mudah terbakar daripada mesiu.”

Bagong mengunyah singkongnya dengan wajah serius. “Jadi perang di luar bisa jadi demo di dalam?”

“Bisa,” jawab Gareng lirih. “Ekonomi itu seperti anyaman. Tarik satu benang di Selat Hormuz, yang lepas bisa pasar tradisional di Bantul.”

Togog mencoba tetap tenang. “Itulah pentingnya diplomasi bebas aktif. Kita jaga hubungan ke semua pihak.”

Petruk menyeringai. “Bebas aktif atau aktif bingung?”

Wisanggeni mendekat ke meja penulis. “Mas, catat ini baik-baik. Kerumitan BBM dan ekonomi itu akan jadi bahan bakar Kurusetra versi modern. Bukan cuma rudal yang meledak. Tapi juga keresahan.”

Di Selat Hormuz, dua kapal tanker masih tertahan. Penjaga selat berkata sikap negeri +62 belum cukup jelas. Di istana Amarta, rapat digelar berlapis-lapis. Pernyataan disusun hati-hati: Kami prihatin. Kami menyerukan de-eskalasi. Kami tetap di Board of Peace demi kepentingan nasional.

“Hebat,” kata Bagong pelan. “Kita prihatin profesional.”

“Kalau perang itu api,” tambah Petruk, “kita ini pemadam yang cuma bawa kipas tangan.”

Gareng menatap layar berita. “Kalau BBM naik, rakyat bisa panik. Tapi kita tetap netral, kan?”

Semar menarik napas panjang. “Netral itu berdiri di tengah tanpa condong. Tapi kalau takut condong karena takut kursi goyah, itu bukan netral. Itu cemas.”

Di Kurusetra, panah pertama akhirnya meluncur. Tanah bergetar. Bhishma menggempur. Debu naik. Tapi jauh dari sana, di pasar-pasar negeri +62, pedagang mulai bertanya-tanya soal harga solar dan ongkos distribusi. Sopir truk menghitung ulang biaya. Nelayan menimbang melaut atau tidak.

Wisanggeni memandang penulis lurus-lurus. “Perang selalu punya dua medan. Medan tempur dan medan tafsir. Kau tulis keduanya.”

Penulis menutup buku catatan dengan tangan sedikit gemetar. Penulis bukan ksatria. Penulis tidak berdiri di antara dua pasukan, hanya mencatat ketika anak api menyampaikan kabar bahwa bahan bakar perang bukan cuma minyak dan mesiu, tetapi juga kebijakan yang ragu, sikap yang ambigu, dan ekonomi yang rapuh.

Lampu penginapan makin redup. Di luar, jangkrik tetap bernyanyi seolah tak ada yang berubah. Tapi penulis tahu, seperti yang dikatakan Wisanggeni sebelum ia menghilang ke gelap malam:

“Kurusetra tidak selalu dimulai dengan darah. Kadang ia dimulai dengan harga BBM.”

Cerita sebelumnya: Palagan Kurusetra: Geger Awal

(Sibu Bayan)

No comments:

Post a Comment