Hari Keempat Kurusetra: Gajah-Gajah Penjaga Rupiah dan Bursa

 Dongeng Sibu Bayan #041


Sebenarnya penulis sudah berniat meninggalkan Alas Purwo. Setelah semalam mendengarkan kisah hari ketiga Perang Baratayudha tentang Negeri Omon-Omon, rasanya kepala penulis sudah cukup penuh oleh cerita para pejabat Hastinapura yang lebih sibuk mengelola kata-kata daripada kenyataan. Hutan yang semestinya menjadi tempat mencari ketenangan perlahan berubah menjadi ruang kuliah terbuka tentang perang, kekuasaan, dan segala tingkah laku manusia yang kadang lebih sulit dipahami daripada suara burung di tengah malam.

Sore itu penulis mulai berkemas. Buku catatan sudah masuk ransel. Baju-baju sudah dilipat. Rencananya besok pagi penulis akan menuju Jember. Penulis tidak ingin terlalu lama tinggal di Alas Purwo. Angin laut selatan yang berembus di sela pohon nyamplung jauh lebih menenangkan daripada laporan korban perang yang datang setiap hari.

Namun, ketika penulis hendak melangkah keluar dari penginapan kecil tempat penulis menginap, seseorang memanggil dari ruang depan.

Ternyata Bagong dan Petruk sedang berdiri di depan televisi tua yang tergantung di sudut lobi. Dengan wajah serius yang jarang penulis lihat, keduanya meminta penulis mendekat.

"Mas... lihat ini dulu."

Di layar televisi tampak ribuan mahasiswa memenuhi jalan-jalan ibu kota Hastinapura. Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara. Sebagian berorasi dengan semangat, sebagian lain tampak sibuk merekam diri sendiri. Di bagian bawah layar muncul tulisan besar: REPOT NASI JILID II