Dongeng Sibu Bayan #041
Sore itu penulis mulai berkemas. Buku catatan sudah masuk ransel.
Baju-baju sudah dilipat. Rencananya besok pagi penulis akan menuju Jember. Penulis
tidak ingin terlalu lama tinggal di Alas Purwo. Angin laut selatan yang
berembus di sela pohon nyamplung jauh lebih menenangkan daripada laporan korban
perang yang datang setiap hari.
Namun, ketika penulis hendak melangkah keluar dari penginapan kecil
tempat penulis menginap, seseorang memanggil dari ruang depan.
Ternyata Bagong dan Petruk
sedang berdiri di depan televisi tua yang tergantung di sudut lobi. Dengan
wajah serius yang jarang penulis lihat, keduanya meminta penulis mendekat.
"Mas... lihat ini dulu."
Di layar televisi tampak ribuan mahasiswa memenuhi jalan-jalan ibu kota Hastinapura. Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara. Sebagian berorasi dengan semangat, sebagian lain tampak sibuk merekam diri sendiri. Di bagian bawah layar muncul tulisan besar: REPOT NASI JILID II