Hari Keempat Kurusetra: Gajah-Gajah Penjaga Rupiah dan Bursa

 Dongeng Sibu Bayan #041


Sebenarnya penulis sudah berniat meninggalkan Alas Purwo. Setelah semalam mendengarkan kisah hari ketiga Perang Baratayudha tentang Negeri Omon-Omon, rasanya kepala penulis sudah cukup penuh oleh cerita para pejabat Hastinapura yang lebih sibuk mengelola kata-kata daripada kenyataan. Hutan yang semestinya menjadi tempat mencari ketenangan perlahan berubah menjadi ruang kuliah terbuka tentang perang, kekuasaan, dan segala tingkah laku manusia yang kadang lebih sulit dipahami daripada suara burung di tengah malam.

Sore itu penulis mulai berkemas. Buku catatan sudah masuk ransel. Baju-baju sudah dilipat. Rencananya besok pagi penulis akan menuju Jember. Penulis tidak ingin terlalu lama tinggal di Alas Purwo. Angin laut selatan yang berembus di sela pohon nyamplung jauh lebih menenangkan daripada laporan korban perang yang datang setiap hari.

Namun, ketika penulis hendak melangkah keluar dari penginapan kecil tempat penulis menginap, seseorang memanggil dari ruang depan.

Ternyata Bagong dan Petruk sedang berdiri di depan televisi tua yang tergantung di sudut lobi. Dengan wajah serius yang jarang penulis lihat, keduanya meminta penulis mendekat.

"Mas... lihat ini dulu."

Di layar televisi tampak ribuan mahasiswa memenuhi jalan-jalan ibu kota Hastinapura. Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara. Sebagian berorasi dengan semangat, sebagian lain tampak sibuk merekam diri sendiri. Di bagian bawah layar muncul tulisan besar: REPOT NASI JILID II

Penulis mengernyitkan dahi. "Repot Nasi lagi?"

Bagong mengangguk. "Pakai jilid dua."

"Jilid satunya sudah selesai?" tanya Penulis

"Itu yang belum jelas." Kata Petruk sambil terkekeh pelan. "Kalau sudah selesai biasanya tidak perlu jilid dua."

Suara orator dari televisi terdengar putus-putus. Yang tertangkap hanya serpihan kata-kata: harga naik, lapangan kerja, rupiah, dolar, investor, fundamental ekonomi, masa depan.

Petruk akhirnya mematikan televisi. "Lha saya malah tambah bingung. Tadi pagi berita ekonomi bilang semuanya baik-baik saja."

Tak lama kemudian Semar keluar dari dapur sambil membawa teko kopi. Gareng menyusul di belakangnya dengan sandal jepit yang lagi-lagi putus di bagian talinya. Kami lalu duduk melingkar di beranda penginapan sambil menikmati senja yang mulai turun di Alas Purwo.

Ketika mendengar pembicaraan kami, Semar hanya tersenyum. "Kalau semuanya baik-baik saja, mahasiswa itu sedang demo apa?"

Tak seorang pun menjawab.

Televisi kembali dinyalakan. Kali ini yang muncul adalah siaran ekonomi. Pembawa acara berbicara dengan penuh semangat seolah baru saja memenangkan undian berhadiah. Rupiah Hastinapura menguat terhadap dolar Pancala. Indeks Bursa Hastinapura melonjak. Kepercayaan investor meningkat. Sentimen pasar positif. Fundamental ekonomi tetap kuat. Kalimat terakhir itu diulang sampai tiga kali.

Sejak tadi Gareng yang duduk di pojok hanya sibuk membetulkan sandal jepitnya. Tiba-tiba ia ikut berkomentar. "Saya tidak paham ekonomi." "Lalu?" tanya Bagong.

"Tapi kalau sebuah berita harus mengulang kalimat fundamental ekonomi kuat sampai tiga kali, biasanya ada yang sedang berusaha diyakinkan."

"Siapa?" Tanya Bagong. Gareng mengangkat bahu, "Bisa rakyat. Bisa investor. Bisa juga pembawa acaranya sendiri."

Semar menyeruput kopinya perlahan. "Lho, itu persis yang terjadi pada Duryudana menjelang hari keempat Perang Baratayudha." Bagong langsung menoleh. "Memangnya waktu itu ada demo juga?"

"Bukan." Jawab Semar. "Ada sesuatu yang lebih ditakuti penguasa daripada demonstrasi."

"Apa?" tanya Bagong

"Kehilangan kepercayaan." Jawab Semar

Menurut Semar, malam sebelum hari keempat perang adalah malam yang panjang bagi Duryudana.

Di atas meja kerjanya menumpuk berbagai laporan dari seluruh penjuru negeri. Nilai tukar rupiah Hastinapura terhadap dolar Pancala terus melemah. Para saudagar asing perlahan menarik modal mereka dari kerajaan. Bursa Hastinapura terkoreksi selama berminggu-minggu. Saham-saham unggulan kerajaan ikut rontok satu per satu.

Saham Bank Kurawa Mandiri. Saham Gajah Energi Hastina. Saham Telekom Astina. Saham Jalan Tol Kurusetra. Semuanya memerah. Merah seperti wajah Dursasana setiap kali berpapasan dengan Bima.

Yang membuat Duryudana semakin kesal adalah kenyataan bahwa setiap kali ia meminta penjelasan, para menterinya selalu menjawab dengan kalimat yang sama.

Fundamental ekonomi kuat, Prabu.

Malam itu Duryudana akhirnya kehilangan kesabaran. Ia meminta seluruh menteri berkumpul di balairung kerajaan.

Dengan wajah kusut ia bertanya satu per satu tentang keadaan negeri. Jawaban yang diterimanya tidak menggembirakan. Rupiah Hastinapura melemah terhadap dolar Pancala. Investasi asing keluar perlahan. Harga pangan naik. Lapangan pekerjaan semakin sepi. Namun anehnya, para menteri tetap menutup laporan mereka dengan kalimat yang sama: fundamental ekonomi kuat.

Duryudana memandangi mereka cukup lama. "Lalu fundamental yang kuat itu sebenarnya berada di mana?"

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa menteri pura-pura membaca laporan. Sebagian menunduk. Ada yang mendadak tertarik mengamati ukiran tiang balairung. Akhirnya seorang pejabat muda memberanikan diri menjawab.

"Di slide presentasi, Prabu."

Ketika suasana semakin muram, masuklah Patih Sengkuni. Wajahnya cerah. Terlalu cerah. Dan biasanya kalau wajah Sengkuni terlalu cerah, ada sesuatu yang patut dicurigai. Dengan penuh percaya diri ia menyampaikan bahwa kerajaan tidak perlu panik. Ia mengaku sudah menemukan cara untuk mengatasi masalah. Duryudana yang mulai putus asa langsung menaruh harapan besar. Ia mengira Sengkuni menemukan cara memperbaiki ekonomi, meningkatkan produksi pangan, atau mengembalikan kepercayaan para saudagar.

Ternyata tidak.

Sengkuni hanya ingin menaikkan Bursa Hastinapura. Ia lalu membentangkan peta besar yang dipenuhi tanda-tanda kecil. "Itu apa?" tanya Duryudana.

"Pasukan gajah kerajaan."

"Lalu?"

"Kita kerahkan mereka untuk membeli saham."

Ruangan mendadak hening.

Bahkan seorang menteri sampai tersedak teh. Namun, Sengkuni menjelaskan rencananya dengan sangat serius. Menurutnya, jika harga saham naik, maka indeks akan ikut naik. Jika indeks naik, maka rakyat akan senang. Dan jika rakyat senang, mereka akan berhenti bertanya. Dialog itu berlangsung singkat.

"Kalau harga saham naik?"

"Indeks naik."

"Kalau indeks naik?"

"Rakyat senang."

"Kalau rakyat senang?"

"Mereka lupa bertanya."

Keesokan harinya, ribuan gajah bergerak menuju Bursa Kurusetra. Belum pernah sepanjang sejarah perang ada pasukan yang berangkat sambil membawa formulir pembelian saham.

Mereka membeli hampir semua saham yang berhubungan dengan kerajaan. Harga langsung melonjak. Papan perdagangan berubah hijau. Rupiah Hastinapura menguat terhadap dolar Pancala. Para juru warta kerajaan bersorak. Pengamat ekonomi bergantian muncul di televisi menjelaskan bahwa pasar menyambut baik arah pembangunan kerajaan.

Tidak seorang pun bertanya siapa sebenarnya yang membeli. Di Alas Purwo, Bagong yang mendengarkan cerita itu tiba-tiba mengangkat tangan.

"Pak, investor itu siapa sebenarnya?"

"Investor ya investor," jawab Petruk.

"Iya, investor yang mana?"

"Pokoknya investor."

"Luar negeri?"

"Bisa."

"Dalam negeri?"

"Bisa."

"Gajah?"

Petruk terdiam. Semar tersenyum.

"Kalau pertanyaan itu ditanyakan di televisi kerajaan, biasanya iklan langsung muncul."

Menjelang sore, Bursa Hastipura masih hijau. Rupiah Hastinapura masih menguat. Berita-berita ekonomi tetap optimistis. Namun, di medan perang yang sesungguhnya keadaan berbeda.

Bima masih mengamuk. Arjuna masih memanah. Gatotkaca masih menghantam pasukan Kurawa dari udara.

Pasukan gajah yang pagi tadi dipakai menopang Bursa Hastinapura kini porak-poranda di medan tempur. Sebagian kelelahan. Sebagian kebingungan. Sebagian bahkan masih membawa bukti transaksi saham di belalainya. Ketika senja turun, laporan kekalahan datang bertubi-tubi ke istana. Pasukan gajah hancur. Belasan adik Duryudana gugur. Barisan Kurawa semakin terdesak.

Malam harinya Duryudana mendatangi Resi Bisma. Di tangannya ada dua laporan. Laporan bursa dan  laporan perang.

Ia tidak lagi marah seperti biasanya. Kali ini ia tampak benar-benar bingung. Menurut laporan pertama, keadaan membaik. Indeks naik. Rupiah menguat. Sentimen positif. Investor optimis. Namun, laporan kedua menunjukkan kenyataan yang sama sekali berbeda. Perang semakin buruk. Pasukan semakin terdesak. Kepercayaan semakin menipis.

"Rama," kata Duryudana pelan, "jika semuanya membaik, mengapa rasanya kita tetap kalah?"

Bisma memandangnya lama. Kemudian menunjuk ke arah luar tenda, ke arah ribuan api unggun yang menyala di medan Kurusetra. "Karena yang kau lihat adalah papan bursa, Prabu."

"Lalu?"

"Sedangkan perang sedang berlangsung di dunia nyata."

Duryudana terdiam. Bisma melanjutkan. "Nilai tukar dapat ditopang. Harga saham dapat didorong. Sentimen dapat dibentuk. Berita dapat dihias. Tetapi kepercayaan tidak bisa diperintah."

Semar menghentikan ceritanya. Televisi masih menyala. Berita ekonomi terus bergulir. Rupiah menguat. Indeks naik. Investor optimis. Fundamental kuat. Tak ada yang berbicara untuk beberapa saat. Bagong menatap layar cukup lama sebelum akhirnya bertanya.

"Pak, jadi sebenarnya yang membaik apa?"

Semar menyeruput kopi yang mulai dingin. Kemudian menjawab pendek.

"Warna."

Tak ada yang berbicara lagi. Di layar televisi, warna hijau terus berkedip-kedip. Di jalan-jalan ibu kota mahasiswa masih berteriak. Di pasar-pasar rakyat masih menghitung harga kebutuhan pokok. Dan entah mengapa, malam itu yang tampak paling tenang justru angka-angka di layar televisi.

Angin Alas Purwo berembus perlahan. Penulis memandang ke arah hutan yang mulai gelap. Lalu untuk pertama kalinya malam itu penulis mengerti. Kadang yang paling mudah diperbaiki bukanlah kenyataan. Melainkan warnanya.

Cerita sebelumnya: Hari Ketiga Kurusetra: Negeri Omon-Omon danDarurat NPD

(SiBu Bayan)

No comments:

Post a Comment