Dongeng SiBu Bayan #042
Penulis telah meninggalkan Alas Purwo. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Mobil melaju perlahan membelah jalan yang lengang menuju utara. Sesekali cahaya lampu menyapu batang-batang pohon jati yang berdiri diam seperti barisan penjaga malam. Di sebelah kanan terdengar samar debur ombak Laut Jawa yang datang dan pergi, seolah sedang mengulang kisah-kisah tua yang tak pernah selesai diceritakan. Udara mulai terasa asin. Tak ada kendaraan lain. Hanya gelap, jalan, dan pikiran yang masih tertinggal di Alas Purwo.
Kini penulis
berada di kawasan Bajulmati, beberapa kilometer sebelum memasuki Taman Nasional
Baluran dari arah Banyuwangi. Nama itu selalu terdengar ganjil. Mengapa seekor
buaya harus mati agar sebuah tempat memperoleh namanya? Atau mungkin negeri ini
memang gemar memberi nama sebelum sempat memahami kisahnya.
Jalanan nyaris
lengang ketika telepon genggam bergetar.
Semar.
"Mas… kalau belum terlalu jauh,
putar baliklah."
"Ada apa,
Kyai?"
"Hari ini perang memasuki hari kelima."
-o0o-
Ketika penulis
kembali ke pendapa kecil di tepi Alas Purwo, Semar telah duduk bersama Petruk
dan Gareng. Hanya Bagong yang
tampak gelisah.
"Baru pulang?" tanya Semar.
Bagong mengangguk.
"Dari
desa-desa."
"Lalu?"
Bagong
menghela napas. "Saya
melihat sesuatu yang aneh. Semua orang bilang siap. Mereka mengangguk setiap kali
diminta membantu. Tetapi wajah mereka seperti orang yang kehilangan
sesuatu."
Gareng
tersenyum kecil. "Mungkin kehilangan kambing."
Bagong
menggeleng.
"Bukan.
Mereka seperti tidak lagi percaya."
"Saya
melihat kepala-kepala dusun mengangguk ketika menerima perintah. Warga juga
datang bergotong royong. Tidak ada yang membantah. Tetapi ketika pekerjaan
selesai, mereka langsung pulang tanpa saling bercakap. Tidak ada senyum. Tidak
ada kebanggaan. Mereka seperti sedang menyelesaikan pekerjaan orang lain."
Pendapa
mendadak sunyi. Semar meletakkan cangkir kopinya.
"Itulah
yang terjadi pada hari kelima Perang Bharatayudha."
-o0o-
Empat hari
peperangan telah berlalu. Pasukan
Kurawa masih lebih banyak. Persediaan makanan melimpah, gudang senjata penuh,
kereta perang berjajar rapi. Namun setiap malam Duryudana justru semakin
gelisah.
Ia memanggil para pembesarnya.
"Apa yang masih kurang?"
Sengkuni segera menjawab, "Lumbung
logistik, Prabu."
"Bukankah sudah ada?"
"Belum cukup."
"Kalau
begitu bangun lagi. Perbesar. Percepat."
Sengkuni
tersenyum, seolah telah menyiapkan usul itu sejak awal.
"Prabu, izinkan hamba memberi nama
program ini Lumbung Merah Putih."
Duryudana mengangkat alis.
"Mengapa harus nama itu?"
"Karena rakyat menyukai nama-nama yang
agung. Nama yang mengingatkan mereka pada kerajaan. Siapa pula yang berani
mempertanyakan sebuah lumbung yang membawa warna kebesaran negeri?"
Duryudana tersenyum puas.
"Bagus. Sebarkan titah ke seluruh Astina.
Katakan bahwa setiap desa akan memiliki Lumbung Merah Putih."
"Siap, Prabu."
Sengkuni lalu
mengusulkan agar pembangunan tidak diserahkan kepada kepala-kepala dusun.
"Kalau
menunggu mereka, lumbung akan lama selesai. Kerahkan saja Pasukan Gajah."
"Apakah mereka pandai membangun
lumbung?"
"Mereka
pandai menyelesaikan perintah."
Duryudana
mengangguk.
"Baik. Mulai besok seluruh lumbung
dibangun oleh Pasukan Gajah. Rakyat nanti tinggal memakainya."
Dalam waktu
singkat, ribuan Lumbung Merah Putih berdiri di seluruh Astina. Atapnya baru,
tiangnya kokoh, pintunya dicat merah dan putih menyala. Semua laporan menyatakan pembangunan
selesai seratus persen.
Duryudana tersenyum puas.
"Kalau begitu perang akan segera kita
menangkan."
Namun tak seorang pun menjawab.
-o0o-
Beberapa hari kemudian Bisma berkeliling
melihat lumbung-lumbung itu.
Bangunannya megah. Tiang-tiangnya masih
berbau kayu baru, sementara papan bertuliskan "Lumbung Merah Putih – Milik
Bersama Rakyat" tampak mengilap diterpa matahari.
Namun halaman-halamannya lengang. Angin
lebih sering keluar-masuk daripada para petani.
Di depan salah satu lumbung, beberapa
petani hanya berdiri memandang dari kejauhan.
"Mengapa
kalian tidak menyimpan hasil panen di sini?" tanya Bisma.
Seorang petani
menunduk.
"Lumbungnya
bagus, Rama."
"Lalu mengapa tidak dipakai?"
"Karena
sejak awal kami hanya diminta melihatnya dibangun. Kami tidak pernah diajak bermusyawarah.
Tidak pernah diminta ikut mendirikannya."
"Bukankah papan itu bertuliskan Milik
Bersama Rakyat?"
Petani itu tersenyum pahit.
"Tertulis milik kami, Rama. Tetapi
kami belum pernah merasa memilikinya."
Bisma tidak menjawab.
Ia melanjutkan perjalanan dari satu desa ke
desa lain. Di setiap lumbung ia mendengar jawaban yang tak jauh berbeda.
Bangunannya berdiri kokoh. Kayunya masih mengilap. Bau getahnya bahkan belum
hilang. Di halaman hanya tampak jejak roda pedati yang telah mengeras diterpa
matahari, sementara tak terlihat jejak orang yang datang membawa hasil panen.
Lumbung-lumbung itu berdiri gagah, seolah
menunggu pemilik yang tak pernah merasa memilikinya. Bangunannya baru. Kepercayaannya
belum.
-o0o-
Malam itu
Duryudana kembali mengumpulkan para pembesarnya.
"Aku
tidak mengerti," katanya. "Lumbung telah berdiri di setiap desa.
Semuanya selesai tepat waktu. Mengapa rakyat masih menyimpan padinya di rumah
masing-masing? Mengapa lumbung-lumbung itu tetap sepi?"
Sengkuni
menjawab cepat. "Berarti titahnya kurang tegas, Prabu. Keluarkan perintah agar seluruh hasil panen
wajib disimpan di Lumbung Merah Putih."
Widura menggeleng pelan. "Bukan itu,
Prabu. Padinya mungkin akan masuk ke dalam lumbung karena takut kepada titah.
Tetapi begitu rasa takut hilang, lumbung itu akan kembali kosong. Sebab yang
belum masuk ke dalamnya bukan padi, melainkan kepercayaan."
Balairung mendadak hening.
Duryudana menoleh kepada Bisma. "Rama,
bagaimana pendapatmu?"
Bisma menarik
napas panjang. "Prabu,
membangun lumbung membutuhkan kayu. Membangun kepercayaan membutuhkan
waktu."
"Tetapi
semuanya sudah diperintahkan." Sela Duryudana
"Perintah memang dapat memindahkan
batu," jawab Bisma pelan. "Namun tidak selalu dapat memindahkan
hati."
Tak ada yang
berani menyela. Bahkan Sengkuni memilih menundukkan kepala.
-o0o-
Semar menghentikan ceritanya. Angin malam membawa aroma laut yang samar. Bagong masih memandang ke arah kegelapan hutan. "Pak… kalau begitu, apa gunanya membangun lumbung?"
Semar tersenyum tipis. "Lumbung tetap penting. Kerajaan tetap harus membangunnya. Yang keliru adalah ketika kerajaan mengira lumbung itulah yang melahirkan kepercayaan."
"Entah namanya Lumbung Emas, Lumbung
Merah Putih, atau nama apa pun. Nama yang baik tidak pernah otomatis melahirkan
rasa memiliki."
"Lalu apa yang melahirkan kepercayaan,
Pak?"
Semar memandang jauh ke arah desa-desa yang
mulai terlelap.
"Perasaan ikut memiliki. Perasaan
didengar. Perasaan dilibatkan."
Ia berhenti
sejenak.
"Kalau tiga hal itu hilang, orang
mungkin tetap datang saat dipanggil. Mereka mungkin tetap bekerja, tetap
berbaris, bahkan tetap memberi hormat. Tetapi hatinya sudah tidak ikut
datang."
Semar tidak melanjutkan kata-katanya. Ia
hanya memandang cangkir kopi yang mulai mendingin. Barangkali ia tahu, tidak
semua perang dimenangkan oleh banyaknya prajurit atau tingginya lumbung. Ada
perang yang diam-diam kalah ketika hati orang-orang mulai menjauh dari
kerajaannya.
Tak ada lagi
yang berbicara. Petruk
memandangi bara kopi yang mulai padam.
Gareng kembali mengupas kacang, tetapi kali
ini tanpa bersuara.
Bagong hanya menunduk. Barangkali ia sedang
mengingat wajah-wajah kepala desa yang ditemuinya siang tadi.
Penulis pun pamit. Kali ini benar-benar meninggalkan Alas Purwo.
Ketika mobil kembali melewati Bajulmati,
papan nama itu sejenak memantulkan cahaya lampu, lalu hilang ditelan malam.
Entah mengapa,
penulis kembali teringat ucapan Bisma.
"Perintah dapat memindahkan batu.
Tetapi tidak selalu dapat memindahkan hati."
Malam itu penulis akhirnya mengerti. Sebuah
kerajaan dapat membangun ribuan lumbung. Dapat meresmikannya. Dapat pula
memerintahkan seluruh rakyat berdiri memberi hormat. Namun tidak pernah ada
kerajaan yang berhasil memerintahkan rakyatnya untuk percaya.
-o0o-
Cerita sebelumnya: Hari Keempat Kurusetra: Gajah-Gajah Penjaga Rupiah dan Bursa
No comments:
Post a Comment