Dongeng Sibu Bayan (#022)
Malam ini, penulis
memutuskan untuk menginap di Kepanjen. Penulis masih ditemani Bagong dan
Abimanyu. Aroma kopi khas Wonosari Gunung Kawi dan tembakau srintil memenuhi
kedai ‘Kopi Rakyat’ di pinggir jalan utama Kepanjen-Malang.
“Mas Penulis,
besok kita ikut ngantar Den Abimanyu ke kahyangan. Sekalian nanti kita ke sawah
percobaan milik ‘Mega Food Estate Hastina’. Ada Grand Launching Lumbung
Pangan Negeri, proyek kebanggaan Raja Duryudana untuk membuat negeri ini
swasembada sekaligus swasemawa,” ujar Bagong sambil mengunyah tempe krispi khas
Kepanjen. (baca cerita sebelumnya:
Setengah berbisik
Bagong menambahkan, “Di sana ada skandal yang lebih gurih dari rendang—kisah
Arjuna, bapaknya Den Abi, dengan Raden Ayu Banowati, permaisuri Duryudana, raja
Hastina.”
Abimanyu yang terlanjur mendengar bisikan Bagong hanya terkekeh. “Jangan harap objektivitas penuh. Kisah itu masih membuat hatiku uring-uringan. Bayangkan, ayahku sang kesatria idola justru dicurigai menjalin romansa terlarang dengan Banowati, permaisuri Kurawa”.






